oleh

SOCIAL DISTANCING YANG BELUM UTUH DI LAMPUNG

DHYAN T HARSA (Pegawai BPS Provinsi Lampung)

Akhir bulan Desember 2019 dunia digemparkan oleh berita mewabahnya virus corona yang berasal dari di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok. Hanya butuh waktu kurang dari 5 bulan virus ini menjadi teror mengerikan bagi masyarakat dunia. Begitu cepatnya virus ini menyebar dan menyerang jutaan orang didunia, dampaknya pun mampu melumpuhkan perekonomian hampir seluruh negara didunia.

Hingga kini (14 Mei 2020) sudah 66 orang yang dinyatakan positif terinveksi virus corona di bumi ruwai jurai, bahkan Kota Bandar Lampung mendapat predikat Zona Merah dari pemerintah. Beragam Upaya dilakukan Pemerintah Provinsi Lampung untuk menekan penyebaran virus ini dan yang paling digaungkan agar rakyat melakukan social distancing, menjalankan pola hidup sehat dan senantiasa berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa agar rantai penyebaran virus ini terputus.

Sekolah, bekerja dan beribadah dilakukan di rumah, jika harus keluar rumah pastikan hanya untuk keperluan yang begitu mendesak. Bagi ASN atau pekerja kantoran lainnya tentu tidak menjadi masalah serius karena bisa sepenuhnya bekerja dan beraktivitas di rumah.
Namun bagaimana dengan aktivitas di pasar tradisional yg padat, kadang berdesakan itu? Social distancing sangatlah sulit diterapkan.

Potensi penularan Covid-19 di pasar jauh lebih dahsyat daripada di kantor dan di tempat ibadah. Lalu mengapa aktivitas di pasar tetap berjalan? Sebagian masyarakat belum ada alternatif lain untuk memenuhi kebutuhan hariannya selain di pasar. Dari sisi penjual yg penghasilannya dari berjualan secara harian tidak semua bisa mengalihkan profesinya di rumah. Sedangkan dari sisi konsumen tidak semuanya juga bisa mengalihkan pemenuhan kebutuhannya dari berbelanja secara online atau ke supermarket yg bersih dan menerapkan protokol kesehatan.

Pemerintah bisa saja menutup pasar dan mengambil alih proses distribusi bahan kebutuhan rakyat secara terkonsentrasi dan sepenuhnya menerapkan protokol kesehatan meskipun biayanya sangat mahal karena harus menambah pos subsidi untuk masyarakat yg kehilangan pekerjaan dan mekanisme distribusi barang juga sangat mahal.

Namun hal itu lebih baik dilakukan sebelum semuanya terlambat. Kita tidak bisa membayangkan jika jumlah pasien wabah ini semakin tidak terkendali. Rumah sakit dan sarana kesehatan tdk cukup menampung dan menangani pasien, tentu cost ekonomi, sosial dan kesehatan akan jauh lebih mahal. Keselamatan jiwa harus diutamakan daripada kepentingan ekonomi.

Lalu, akankah seruan tetap tinggal di rumah selama 14 hari akan efektif jika kondisinya masih seperti ini? Ataukah akan diperpanjang dan terus diperpanjang? Mari kita berdoa dengan khusuk dan penuh harap agar wabah ini segera dimusnahkan dari bumi kita tercinta. Mari bersatu bahu membahu saling membantu untuk memberantas virus corona dengan apa yang kita mampu.

 

News Feed