oleh

Pesta Pora Berakhir di Tangan KPK: Operasi Senyap di Kemenkeu Cuma ‘Shock Therapy’ atau Bersih-Bersih Sungguhan?*

-Opini-47 views
Mahendra Utama Eksponen 98

Drama awal Februari 2026 dibuka dengan gebrakan yang membikin jantung para koruptor berdegup kencang. Dalam satu tarikan napas, KPK melakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT) terhadap pejabat Ditjen Bea Cukai dan Kepala KPP Madya Banjarmasin.

Hasilnya? Uang miliaran rupiah dan 3 kilogram logam mulia diamankan.
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menyebut ini sebagai shock therapy. Namun, muncul pertanyaan krusial di benak publik: apakah ini awal dari sebuah “musim semi” integritas, atau sekadar pemadam kebakaran di tengah krisis kepercayaan yang sudah kadung akut?

*Membersihkan ‘Rumah’ atau Sekadar Menata Perabot?*

Secara teoritis, apa yang dilakukan KPK bisa dilihat melalui lensa Principal-Agent Theory. Pemerintah (Principal) memberikan kuasa kepada birokrat (Agent) untuk mengelola pendapatan negara. Namun, ketika pengawasan melemah, sang agen cenderung mencari keuntungan pribadi (rent-seeking).

OTT masif ini adalah upaya memutus rantai moral hazard tersebut. Jika kita membandingkan dengan negara seperti Georgia di awal tahun 2000-an yang memiliki tantangan korupsi serupa langkah radikal berupa pembersihan institusi secara masif terbukti mampu mendongkrak pendapatan pajak dan kepercayaan investor secara signifikan. Indonesia tampaknya sedang mencoba mencicipi resep yang sama.

*Bukan Sekadar Tangkap, Tapi Transformasi*

Dampak positif dari “bersih-bersih” ini bagi pemerintah ke depan sangat jelas:

* Kredibilitas Fiskal: Investor akan lebih percaya menaruh modal jika mereka tahu uang yang mereka bayarkan tidak mampir ke kantong pribadi pejabat.

* Ruang Fiskal Lebih Luas: Dengan berkurangnya kebocoran, anggaran untuk kesejahteraan sosial bisa lebih optimal.

Kita perlu memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada KPK atas keberaniannya masuk ke sarang macan, serta Kementerian Keuangan yang secara terbuka mendukung proses hukum ini. Langkah transparan ini menunjukkan adanya kemauan politik (political will) untuk tidak lagi melindungi “oknum” demi menjaga nama baik institusi.

Baca Juga:  Negara Tidak Boleh Kalah Dan Menyerah Dengan Preman

*Pelajaran untuk Masa Depan*

Inspirasi yang bisa kita petik adalah bahwa integritas bukanlah pilihan, melainkan fondasi. Teknologi digitalisasi sistem pajak dan cukai harus diperkuat agar meminimalisir interaksi fisik yang rawan suap.

Namun, pelajaran terbesarnya adalah: kejujuran adalah mata uang yang paling berharga dalam bernegara. Seberapa kuat pun posisi seorang pejabat, bayang-bayang hukum akan selalu mengejar jika moralitas digadaikan demi materi.

OTT kali ini harus menjadi momentum titik balik. Jangan sampai keberhasilan ini hanya menjadi komoditas berita sesaat tanpa adanya perbaikan sistemik yang permanen.

*Mahendra Utama, Eksponen 98

#KPK #BeaCukaiKorupsi #IndonesiaBebasKorupsi

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed