Bandar Lampung Bandarlampung Berita Kota Covid-19

Minim Ruang Isolasi, 25 Warga Lampung Mati Dalam Sehari

Bandar Lampung-Pemerhati sosial politik Lampung Nizwar Affandi mengaku heran dengan kinerja Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung.

Dia mengungkapkan, pada tanggal 18 November kemarin entah disengaja atau tidak, Satgas Provinsi tidak melakukan update pertambahan kasus positif, sembuh dan wafat di Lampung ke website satgas pusat.

Menariknya kata Dia, data penambahannya ditayangkan di website satgas Provinsi tetapi statusnya di satgas pusat tidak mengalami penambahan kasus. Sengaja tidak dilaporkan atau terlambat melaporkan sesuai tenggat waktu update? Sengaja terlambat atau lalai?.

“Sebenarnya data pertambahan kasus positif selama sehari kemarin tidak terlalu mengejutkan, ada penambahan 63 orang. Yang menyedihkan itu, jumlah kematiannya. Dalam sehari kemarin wafat warga Lampung yang wafat akibat Korona sebanyak 25 orang,”ungkap mantan Komisoner KPU Bandar Lampung yang akrab di sapa Affan, Kamis (19/11).

Ia menduga, puluhan orang yang wafat dalam sehari itu konsekuensi dari minimnya ketersediaan ruang isolasi. Apalagi ruang perawatan intensif di Rumah Sakit  rujukan di Lampung.

“Hal itu sudah  sudah berkali-kali saya ingatkan dalam tulisan sejak awal pandemi. Dari kejadian ini (apalagi naudzubillahi min zalik masih terus berlanjut), Pemerintah Provinsi Lampung nyata-nyata telah gagal menjalankan 3 T, baik Testing, Tracing, apalagi Treatment,”cetus Affan.

Dan orang yg paling bertanggungjawab atas kegagalan ini, sambung Affan adalah  Gubernur  Lampung Arinal Djunaidi.

“Saya menantikan penjelasan langsung dari beliau kepada publik di ruang publik, dan jangan bersembunyi terus di balik para juru bicara satgas. Jika Gubernur Arinal keberatan dengan pernyataan ini, silakan didebat, tetapi sebaiknya perdebatan dilakukan secara terbuka di ruang publik dan yang disandingkan adalah data-data lapangan yg empirik. Insha Allah dengan suka cita saya akan hadir dan menikmati perdebatannya,”urainya.

Dia menambahkan, DPRD yang semestinya melakukan fungsi pengawasan ternyata hanya menjadi saksi bisu tanpa adanya upaya kongkret untuk menanyakan kepada Gubernur terkait perkembangan penanganan virus dari Wuhan, China.

“Sampai kapan DPRD Provinsi akan bisu? Tidak adakah fraksi dan partai yang tergerak nuraninya untuk sekedar memanggil dan meminta penjelasan langsung dari Gubernur?. Apa masih mau menunggu catatan kematian dalam sehari naik berkali lipat dari hari ini? Selama 8 bulan pandemi, masih ada 5 Provinsi yg jumlah kematiannya di bawah 25 orang, bahkan 4 provinsi masih di bawah 20 orang. Di Lampung, 25 orang itu wafat dalam sehari,”tandasnya.(Bung)

286 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

Share this:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *