oleh

Bandar Lampung Perlu EWS

Di banyak kota di Indonesia, banjir masih datang seperti tamu tak diundang  meski tidak pernah benar-benar mengejutkan, tetapi selalu berhasil melumpuhkan.

Jalan berubah menjadi sungai, rumah menjadi kolam, dan aktivitas ekonomi terhenti seketika. Masalahnya bukan semata hujan deras, melainkan ketidaksiapan kota dalam “membaca tanda-tanda awal.”

Di titik inilah Early Warning System (EWS) menjadi krusial dan bukan sekadar alat, tetapi garis batas antara kesiapsiagaan dan kepanikan.

Kondisi ini tergambar jelas di Bandar Lampung, kota yang dalam dua tahun terakhir menghadapi kenyataan pahit: banjir tidak lagi bersifat musiman, tetapi telah menjelma menjadi krisis perkotaan yang berulang dan sistemik. Intensitasnya meningkat, sebarannya meluas, dan dampaknya semakin dalam.

Pada 2025, tercatat setidaknya 23 titik banjir dalam satu kejadian besar, dengan curah hujan melampaui 200 mm—angka yang jauh di atas normal dan cukup untuk melumpuhkan kota dalam hitungan jam.

Bahkan pada peristiwa lain di tahun yang sama, hujan dengan intensitas 113,4 mm dan lonjakan hingga 80 mm per jam telah memicu genangan luas. Memasuki Maret 2026, situasi kian memburuk: 44 titik banjir tersebar di 10 kecamatan, dengan ketinggian air mencapai 1,2 meter, ratusan rumah terdampak, dan korban jiwa kembali tercatat.

Angka-angka ini bukan sekadar statistik. Ia adalah pola. Dan pola, dalam kebencanaan, adalah peringatan yang seharusnya bisa dibaca.

Namun, persoalan banjir di Bandar Lampung tidak berhenti pada hujan. Ia merupakan hasil dari akumulasi masalah yang saling terkait: drainase kota yang tak lagi memadai, sungai yang menyempit dan dangkal akibat sedimentasi, serta alih fungsi lahan yang menggerus daya serap tanah. Air hujan yang dahulu meresap kini berubah menjadi limpasan cepat yang membanjiri sistem yang sudah kewalahan.

Baca Juga:  Waspada, Perusakan Gardu PLN Kian Marak !!

Di sinilah letak kegagalan paling mendasar, kota tidak memiliki sistem yang cukup sigap untuk membaca dan merespons tanda-tanda awal.

EWS hadir untuk menjawab kekosongan itu. Dalam konteks banjir perkotaan, EWS bekerja dengan mengintegrasikan berbagai data—curah hujan, tinggi muka air sungai, kapasitas drainase, hingga kondisi pasang surut—yang diolah secara real-time untuk menghasilkan peringatan dini. Sistem ini tidak menghentikan hujan, tetapi memberi waktu. Dan dalam bencana, waktu adalah segalanya.

Bayangkan dua skenario

Tanpa EWS, hujan turun berjam-jam tanpa indikator yang jelas. Warga baru sadar saat air sudah masuk rumah. Pemerintah baru bergerak saat genangan meluas. Respon selalu terlambat, kerugian tak terhindarkan.

Dengan EWS, peringatan dapat dikeluarkan beberapa jam bahkan hari sebelumnya. Pompa air bisa diaktifkan lebih awal. Evakuasi dilakukan sebelum situasi memburuk. Distribusi logistik disiapkan sebelum akses terputus. Dalam skenario ini, banjir tetap terjadi—tetapi dampaknya jauh lebih terkendali.

Sayangnya, tantangan di Bandar Lampung tidak hanya teknis, tetapi juga struktural.

Dalam peristiwa banjir yang viral pada 2026, Wali Kota Eva Dwiana secara terbuka menyoroti persoalan kewenangan. Sungai sebagai elemen utama pengendalian banjir berada di bawah Balai Besar Wilayah Sungai Mesuji Sekampung, bukan pemerintah kota.

Akibatnya, penanganan menjadi terfragmentasi: kota mengelola drainase, sementara sungai—yang menjadi muara dari seluruh sistem—dikendalikan oleh pihak lain.

Kondisi ini menciptakan missing link dalam sistem pengendalian banjir. Drainase yang diperbaiki tidak akan efektif jika sungai tetap dangkal. Sebaliknya, normalisasi sungai tidak akan cukup jika saluran kota tersumbat. Air tidak mengenal batas kewenangan, tetapi sistem kita justru terkotak-kotak.

Di sinilah EWS seharusnya memainkan peran strategis, bukan hanya sebagai alat teknis, tetapi sebagai platform integrasi. Dengan sistem peringatan dini yang terhubung lintas lembaga, data dari hulu hingga hilir dapat dibaca dalam satu dashboard yang sama. Pemerintah kota, BBWS, hingga masyarakat bisa merespons berdasarkan informasi yang seragam dan terkoordinasi.

Baca Juga:  Kiat Eddy Rifai Untuk Kemenkum-HAM Lampung Menyikapi Pemberitaan Dugaan Pungli Asimilasi

Lebih jauh, EWS juga memiliki fungsi sebagai alat kontrol kebijakan. Data historis yang dikumpulkan secara konsisten dapat mengungkap pola risiko: kawasan mana yang selalu tergenang, kapan puncak banjir terjadi, dan bagaimana tren perubahan debit air dari waktu ke waktu.

Informasi ini menjadi dasar penting untuk mengevaluasi tata ruang, menghentikan alih fungsi lahan yang berisiko, serta merancang infrastruktur yang lebih adaptif, termasuk rencana pembangunan embung yang telah diusulkan.

Namun, teknologi tidak pernah cukup berdiri sendiri.

Banyak sistem EWS di berbagai daerah gagal bukan karena tidak canggih, tetapi karena tidak digunakan. Peringatan diabaikan, masyarakat tidak paham cara merespons, atau informasi tidak sampai ke pihak yang membutuhkan. Dalam konteks ini, EWS adalah soal kepercayaan publik. Ia hanya efektif jika dipahami, dipercaya, dan ditindaklanjuti.

Karena itu, implementasi EWS di Bandar Lampung harus disertai dengan edukasi publik yang masif. Warga perlu tahu arti setiap level peringatan, langkah yang harus diambil, dan bagaimana merespons dengan cepat. Tanpa itu, EWS hanya akan menjadi alarm yang berbunyi di ruang kosong.

Tantangan lain adalah keberlanjutan. Tidak sedikit sistem EWS yang berhenti berfungsi karena minim perawatan, keterbatasan anggaran, atau tidak adanya integrasi dengan pengambil keputusan. Teknologi yang seharusnya menjadi solusi justru berubah menjadi simbol formalitas.

Padahal, jika dilihat dari tren dua tahun terakhir, Bandar Lampung tidak lagi berada pada tahap “waspada,” melainkan sudah memasuki fase krisis. Jumlah titik banjir meningkat hampir dua kali lipat, intensitas hujan semakin ekstrem, dan dampak sosial-ekonomi kian besar. Dalam situasi seperti ini, EWS bukan lagi pilihan tambahan—melainkan kebutuhan mendesak.

Pada akhirnya, banjir mungkin tidak bisa sepenuhnya dihilangkan dari kota ini. Namun, dampaknya bisa ditekan secara signifikan jika kota mampu “berbicara lebih dulu” sebelum air datang.

Baca Juga:  Lapas Kelas I Bandar Lampung Peringati Isra Mi'raj

EWS adalah bahasa itu

Bahasa yang mengubah kepanikan menjadi kesiapsiagaan.
Bahasa yang memberi waktu bagi kota untuk bersiap.

Dan di tengah kota yang terus tumbuh, tetapi sistem airnya tertinggal, EWS bisa menjadi satu-satunya cara agar Bandar Lampung tidak selalu terlambat mendengar datangnya banjir.

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed