BANDARLAMPUNG – Pengurus Provinsi Persatuan Angkat Besi Seluruh Indonesia (PABSI) dan Persatuan Angkat Berat Seluruh Indonesia (PABERSI) Lampung melayangkan surat terbuka kepada Ketua Umum KONI Provinsi Lampung beserta jajaran. Surat tersebut menjadi bentuk keprihatinan atas minimnya dukungan anggaran pembinaan atlet menjelang Pekan Olahraga Nasional (PON) 2028.
Surat yang ditandatangani Ketua Harian PABSI Lampung, Edi Santoso, disampaikan bertepatan dengan pelaksanaan Rapat Kerja Provinsi (Rakerprov) KONI Lampung. Dalam surat itu, PABSI dan PABERSI menilai perhatian terhadap pembinaan cabang olahraga unggulan di Lampung terus mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir.
Edi menyebut, sejak persiapan PON XX Papua 2021, dukungan anggaran pembinaan untuk cabang angkat besi dan angkat berat terus menurun. Akibatnya, program pembinaan yang sebelumnya berjalan berkesinambungan kini tidak lagi memperoleh dukungan yang memadai.
“Kami prihatin karena cabang angkat besi dan angkat berat seolah bukan lagi menjadi ikon olahraga Lampung sehingga perhatian dalam hal anggaran semakin berkurang,” tulis Edi dalam surat tersebut.
Ia membandingkan kondisi saat ini dengan persiapan PON 2008 di Kalimantan Timur. Pada periode 2004–2007, PABSI Lampung memperoleh dukungan pembinaan sekitar Rp4 miliar yang dimanfaatkan untuk program latihan intensif serta mengikuti berbagai kejuaraan internasional.
Investasi pembinaan tersebut, menurutnya, berbuah manis. Lampung berhasil meraih 18 medali emas pada PON 2008, dengan 14 medali emas di antaranya dipersembahkan cabang angkat besi dan angkat berat.
Namun, kondisi kini dinilai berbanding terbalik. Proposal pembinaan senilai sekitar Rp1,5 miliar yang diajukan untuk mengejar empat hingga lima medali emas hanya disetujui sebesar Rp50 juta.
“Jumlah itu bahkan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan makan dan minum atlet selama dua bulan,” ungkapnya.
Dalam surat terbuka itu, PABSI juga mempertanyakan komitmen KONI Lampung terhadap cabang olahraga yang selama ini menjadi lumbung prestasi. Menurut mereka, menetapkan target tinggi tanpa diiringi dukungan anggaran yang memadai merupakan kebijakan yang sulit diwujudkan.
PABSI mengibaratkan kondisi tersebut seperti mengirim atlet ke medan perang tanpa senjata, logistik, maupun perlengkapan pendukung.
Mereka juga menyoroti hingga kini belum adanya bantuan pembinaan yang diterima cabang olahraga, sementara target membawa Lampung masuk lima besar pada PON 2028 tetap dicanangkan.
Atas situasi tersebut, PABSI mengaku bahkan mempertimbangkan menghentikan sementara program latihan atlet karena keterbatasan biaya pembinaan.
Di bagian akhir suratnya, PABSI meminta KONI Lampung memprioritaskan pembinaan atlet menuju PON 2028 dibandingkan kegiatan persiapan sebagai tuan rumah PON 2032.
Menurut mereka, status tuan rumah sudah ditetapkan, sehingga fokus utama saat ini seharusnya diarahkan pada peningkatan prestasi atlet yang akan berlaga pada PON 2028.
PABSI juga mengingatkan agar anggaran pembinaan cabang olahraga tidak dialihkan untuk kegiatan lain yang berkaitan dengan PON 2032. Menurut mereka, penggunaan anggaran yang tidak sesuai peruntukannya berpotensi menimbulkan persoalan hukum.
Melalui surat terbuka tersebut, PABSI dan PABERSI berharap KONI Lampung dapat memberikan perhatian lebih terhadap pembinaan atlet agar prestasi olahraga Lampung di tingkat nasional tetap terjaga. (*)










Komentar