BANDAR LAMPUNG — Siang itu, ruang Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polresta Bandar Lampung dipenuhi aktivitas. Sejumlah warga datang silih berganti menyampaikan laporan, petugas kepolisian bekerja di balik meja pelayanan, sementara beberapa wartawan menunggu perkembangan sebuah kasus yang tengah menimpa keluarga Septiani, pengurus PWi Lampung dan Bendahara IJP Lampung.

Di tengah kesibukan itu, ada seorang perempuan yang tak henti bergerak.
Sesekali ia memasuki ruang pemeriksaan. Tak lama kemudian ia keluar menghampiri keluarga pelapor, memastikan kondisi mereka tetap tenang. Beberapa menit kemudian ia kembali berbincang dengan petugas, lalu menyapa para wartawan yang menunggu di ruang pelayanan. Setelah itu, ia kembali lagi ke ruang pemeriksaan.
Sedikitnya lima kali langkah itu berulang.
Ia bukan penyidik. Bukan pula kuasa hukum keluarga pelapor.
Ia adalah Dewi Mayang Suri Djausal, yang lebih akrab disapa Ses Mayang, Ketua Fraksi Gerindra DPRD Kota Bandar Lampung.
Hari itu, Kamis (6/8/2026), Ses Mayang memilih mendampingi keluarga Septiani, pengurus PWI Lampung, yang melaporkan dugaan tindak pidana pengancaman ke Polresta Bandar Lampung.
Yang menarik, tidak banyak orang di ruang pelayanan mengetahui bahwa perempuan yang tampil sederhana itu merupakan putri tokoh Lampung, Faishol Djausal, sekaligus adik kandung Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal.
Tak ada protokoler yang mengiringi langkahnya.
Tak ada rombongan yang membentuk jarak.
Tak ada gestur yang menunjukkan bahwa ia berasal dari keluarga yang memiliki posisi penting di Lampung.
Ia hadir sebagai seorang wakil rakyat yang memilih mendampingi warganya.
Sapaan “Ses Mayang” sendiri bukan sekadar panggilan akrab. Di kalangan masyarakat, relawan, hingga para jurnalis, nama itu melekat karena kedekatannya dengan banyak orang. Ia dikenal mudah diajak berdiskusi, terbuka menerima masukan, dan tidak pernah membangun sekat dengan siapa pun.
Karakter itu terlihat jelas sepanjang proses menunggu pemeriksaan usai.
Ses Mayang membaur dengan wartawan. Sesekali candaan ringan terlontar untuk mencairkan suasana yang sempat tegang. Namun di balik senyum dan obrolan santai itu, fokusnya tidak pernah lepas dari keluarga yang sedang ia dampingi.
Setiap kali ada perkembangan, ia kembali menuju ruang pemeriksaan.
Setiap kali proses administrasi berlanjut, ia memastikan semuanya berjalan sebagaimana mestinya.
Bahkan ketika sebagian orang mulai meninggalkan lokasi, Ses Mayang tetap memilih bertahan.
Ia menjadi salah satu orang terakhir yang meninggalkan Polresta Bandar Lampung.
Bukan karena ingin mendapat perhatian.
Melainkan karena ia ingin memastikan keluarga pelapor benar-benar memperoleh kepastian bahwa laporan mereka telah diterima dan seluruh proses pemeriksaan selesai.
Di tengah kehidupan politik yang sering kali diwarnai simbol dan pencitraan, apa yang dilakukan Ses Mayang justru berjalan tanpa banyak sorotan.
Ia tidak datang hanya untuk berfoto.
Ia tidak hadir sekadar menyampaikan pernyataan.
Ia memilih menemani hingga selesai.
Baginya, masyarakat yang datang mencari keadilan tidak boleh merasa berjalan sendirian.
“Warga yang datang mencari keadilan tidak boleh merasa sendirian. Sebagai wakil rakyat, saya merasa memiliki tanggung jawab untuk ikut mengawal agar prosesnya berjalan dengan baik, profesional, dan memberikan rasa aman bagi masyarakat.”
Kalimat itu bukan sekadar pernyataan kepada media.
Hari itu, ia memperlihatkannya melalui tindakan.
Bagi Ses Mayang, menjadi anggota DPRD bukan hanya berbicara di ruang sidang atau menghadiri rapat-rapat pembahasan anggaran. Amanah sebagai wakil rakyat juga berarti hadir ketika masyarakat membutuhkan pendampingan, terutama ketika mereka berhadapan dengan persoalan yang menyangkut hak-haknya sebagai warga negara.
Prinsip itu bukan sesuatu yang baru dalam perjalanan politiknya.
Sebagai Ketua Fraksi Gerindra DPRD Kota Bandar Lampung sekaligus anggota Komisi IV yang membidangi kesejahteraan rakyat, Ses Mayang dikenal aktif mengawal berbagai isu sosial yang menyentuh kehidupan masyarakat.
Ia menjadi salah satu legislator yang mendorong perlindungan anak, termasuk mendukung pembatasan akses media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun sebagai upaya melindungi generasi muda dari dampak negatif ruang digital.
Perhatiannya juga besar terhadap penyandang disabilitas. Sebagai Ketua Harian Persatuan Komunitas Disabilitas Lampung, ia aktif memperjuangkan akses, kesempatan, dan pelayanan publik yang lebih inklusif bagi kelompok disabilitas.
Di luar tugas legislasi, Ses Mayang juga kerap hadir dalam berbagai kegiatan sosial. Mulai dari menyalurkan bantuan kepada korban banjir, mendukung layanan kesehatan bagi anak-anak, hingga terlibat dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan yang menyentuh langsung kebutuhan warga.
Komitmennya terhadap pembangunan generasi muda juga diwujudkan melalui olahraga. Ia dipercaya menjadi Ketua Pelaksana Perbasi Cup Piala Gubernur Lampung Season 2, sebuah ajang pembinaan atlet basket muda yang menjadi bagian dari upaya melahirkan bibit-bibit olahraga berprestasi di Lampung.
Semua aktivitas itu memperlihatkan satu benang merah yang sama: politik, baginya, bukan sekadar soal jabatan, melainkan tentang kehadiran.
Kepercayaan masyarakat terhadap Ses Mayang juga tercermin dalam Pemilu Legislatif 2024.
Di Daerah Pemilihan Bandar Lampung 2, ia meraih 7.120 suara, menjadikannya salah satu calon anggota DPRD Kota Bandar Lampung dari Partai Gerindra dengan perolehan suara tertinggi.
Angka itu bukan sekadar kemenangan elektoral.
Di balik ribuan suara tersebut tersimpan harapan agar wakil rakyat benar-benar hadir ketika masyarakat membutuhkan.
Barangkali itulah yang menjelaskan mengapa pada Kamis sore itu Ses Mayang tidak segera meninggalkan Polresta Bandar Lampung.
Ketika sebagian orang menganggap pendampingan cukup dilakukan dengan sebuah unggahan media sosial atau pernyataan kepada wartawan, ia memilih cara yang lebih sunyi.
Tetap tinggal.
Tetap mengawal.
Tetap memastikan semuanya selesai.
Sebab baginya, tugas seorang wakil rakyat tidak berakhir ketika kamera dimatikan atau berita selesai ditulis.
Tugas itu baru selesai ketika masyarakat yang didampinginya memperoleh kepastian, rasa aman, dan keyakinan bahwa negara benar-benar hadir melalui orang-orang yang mereka pilih.
Mungkin itulah makna paling sederhana dari sebuah pengabdian.
Tidak selalu berdiri di podium.
Tidak selalu berbicara lantang.
Tetapi memilih tetap berada di samping rakyat, mendengar kegelisahan mereka, menguatkan langkah mereka, dan tidak beranjak sebelum urusan mereka benar-benar usai.










Komentar