oleh

Polemik Inisiator KPB Dalam Pusaran Ambruknya NTP

Bandar Lampung-Polemik siapa yang menjadi inisiator Kartu Petani Berjaya (KPB) terus meruncing, jika sebelumnya Nizwar Affandi mengungkapkan bahwa KPB bukan merupakan inisiasi Gubernur Lampung Arinal Djunaidi karena Ide dan lahirnya KPB muncul dari serangkaian diskusi di awal masa kampanye yang saat itu juga ikut andil Eep Saefulloh Fatah dan Tim Polmark Indonesia.

Namun hal itu dibantah oleh Arinal, saat menghadiri Anugerah Puncak Anugerah Hari Pers Nasional (HPN) ke-36, di Balai Solfian Akhmad, kantor PWI Lampung, Selasa 9 Februari 2021, Arinal menegaskan jika KPB atas inisiasinya.

“Program KPB itu inisiasi saya. Ada tiga konsultan yang merumuskannya sejak awal. Jadi, jika ada pihak yang meragukannya, silahkan tanya langsung kesana,” kata Arinal.

Menanggapi bantahan Gubernur, Affan justru sudah menduga jika Arinal akan menghindari diskusi dan lebih memilih berpolemik di media tetang siapa insiator program KPB.

“Seperti sudah saya duga sebelumnya, Gubernur Lampung dan kroninya akan menghindari diskusi tentang apakah benar klaim Ketua PWI Lampung tentang kesaktian KPB yang baru berumur empat bulan terhadap peningkatan produksi, ketersediaan pupuk dan harga jual panen dihadapkan dengan terpuruknya NTP Lampung dan pemberitaan tentang kelangkaan pupuk,”urai Affan.
Affan menambahkan, daripada mempertanggungjawabkan klaim sepihak Ketua PWI Lampung itu dengan data dan angka, mereka kemudian lebih memilih mempersoalkan tentang siapa inisiator KPB, padahal bagi publik hal itu tidak begitu penting dibandingkan dengan klarifikasi tentang subtansi klaim sepihak Ketua PWI Lampung.

“Bukan bermaksud mengajari, saya sarankan Pak Gubernur dan Ketua PWI Lampung membuka dan membaca KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), Cambridge, Collins, Oxford dan Merriam-Webster Dictionary agar mendapatkan pemahaman yang lebih tepat tentang kata “inisiator, initiator, inisiatif, initiative, dan prakarsa,”jelasnya.

Semua kata itu mengandung pengertian:“begin/mulai/first-step/mula-mula/start/originating/asal-muasal/found/menemukan” Dengan pengertian itu maka inisiator KPB bisa jadi seseorang atau sekelompok orang yang awal sekali memulai menemukan ide tentang penggunaan kartu untuk membantu kegiatan produksi petani di Lampung.

“Ingat ya pengertian dasar inisiator, yang memulai menemukan bukan yang kemudian melanjutkan dan seterusnya,”cetusnya.

“Seingat saya Eep Saefulloh Fatah (ESF) dan Tim PolMark Indonesia yang pertama kali mengemukakan ide tentang penggunaan kartu sebagai gimmick dalam kampanye Arinal-Nunik seperti yang digunakan dalam kampanye Jokowi di DKI, gagasan itu disampaikan dalam FGD pertama perumusan visi-misi di Bukit Randu. Banyaknya usulan hasil FGD itu kemudian dipilah dan dirumuskan menjadi 33 Janji Kerja (termasuk KPB) dalam beberapa diskusi intens di antara ESF, Eko (Direktur Riset PolMark), Maikal (Direktur Operasional PolMark), Pak Arinal, Bu Nunik dan beberapa orang dari tim pemenangan kandidat. Pada saat itu terkait perumusan 33 Janji Kerja termasuk KPB memang menjadi domainnya PolMark Indonesia dengan penajaman dan finalisasi bersama kandidat dan tim pemenangan, dalam kelahiran gagasan dan perumusan awal itu belum ada keikutsertaan lembaga konsultan lainnya,”paparnya.

Affan menuturkan, Ia tidak akan membahas perjalanan KPB berikutnya karena itu sudah keluar dari konteks definisi inisiator. Dari kronologi itulah dalam komentarnya sebelumnya menyatakan bahwa KPB dilahirkan bukan oleh satu orang, karena ada lebih dari satu orang yang terlibat di awal mula prosesnya.

“ Dan jika itu akan disematkan kepada kandidat maka itupun tidak berarti Pak Arinal sendirian karena ada Bu Nunik yang sejak awal mula mengikuti proses itu juga.Tetapi sekali lagi perlu saya ingatkan bahwa publik sekarang sudah pintar, sudah pandai membedakan mana klaim yang asbun alias tidak berdasar dan mana pernyataan yang memiliki pijakan data dan fakta. Semua orang sudah bisa mengakses sendiri data-data yang disajikan oleh BPS maupun Kementerian Pertanian untuk menguji apakah klaim Ketua PWI Lampung yang dijadikannya pertimbangan dalam memberi penghargaan terkait KPB itu sudah memenuhi azas kepatutan atau belum. Kalaupun ternyata ada perbedaan standar kepatutan di antara saya, publik atau Ketua PWI Lampung terkait pemberian penghargaan itu ya dinikmati saja sebagai bentuk dari kebebasan berpendapat dan praktek langsung dari prinsip check and balance dalam demokrasi,”beber Affan.

Sebagai pimpinan partai politik sambung Affan, Gubernur Lampung tentu memahami prinsip-prinsip dasar itu, begitu juga Ketua PWI Lampung, karena baik partai politik maupun pers keduanya merupakan pilar-pilar demokrasi.

Melansir dari harianmomentum.com, menurut Ketua PWI Provinsi Lampung, Supriyadi Alfian, anugerah Inisiator KPB merupakan penghargaan khusus yang diberikan PWI Lampung pada peringatan HPN ke-36 dan HUT ke-75 PWI tahun 2021. 

PWI Lampung menilai, inisiatif Gubernur Arinal melahirkan dan menjadikan program Kartu Petani Berjaya sebagai program unggulan, sejalan dengan potensi di sektor pertanian yang dimiliki Lampung.

“Dengan Kartu Petani Berjaya, semua menjadi sederhana. Tata Kelola tidak terganggu, jaminan ketersedian benih dan pupuk, serta hasil panen dengan harga bagus,” ujarnya, Ahad (7-2-2021). 

“Terbukti! Program” kartu sakti ”ini telah menunjukkan perubahan pertanian di Lampung,” kata Supriyadi seraya menyebutkan peningkatan luas panen padi pada 2020 mencapai 79.958 hektare. Angka ini merupakan lima persen dari total luas panen padi di Indonesia.

Selain itu, peningkatan produksi dari 2,16 juta ton menjadi 2,59 juta ton pada tahun 2020. 

Tidak hanya itu. Kartu Petani Berjaya juga menstimulus produksi komoditas pertanian lainnya yang mengalami tren pertumbuhan pada tahun 2020. Seperti jagung mencapai 2,47 juta ton pada Oktober 2020. Ubi kayu sebesar 5,07 juta ton sampai Oktober 2020. 

Begitupun komoditas unggulan Lampung di antaranya kopi sebesar 118.145 ribu ton dan lada 15,23 ribu ton.

Karena itu, sudah sewajarnya jika inisiatif Gubernur Arinal melahirkan KPB juga apresiasi apresiasi. Sebelum PWI Lampung, Fakultas Pertanian Universitas Lampung juga memberikan penghargaan honoris causa kepada Gubernur Arinal.

Supriyadi berharap, momentum HPN 2021, para wartawan, khususnya yang tergabung dalam PWI Lampung, turut mendorong dan menyukseskan program-program pembangunan di Lampung, khususnya program KPB. (Bung)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed