Di sudut Kedai Kopi Sekali Minum Langsung Moveon, yang lebih dikenal warga sebagai Kedai Slemon , Rustam Silobilobi duduk seperti patung marmer murah.
Matanya merah, bukan karena habis menangis, tapi karena semalaman ia membaca berita Anggaran Pendapatan Bapak Dewan (APBD) Perubahan sambil minum kopi tanpa gula.
“Selalu rakyat yang dijadikan bemper,” sungutnya. “Alasannya demi kepentingan rakyat, tapi semua demi kepentingan pribadi. Janji kawal anggaran, tapi tak ubahnya Anjing Penjaga Anggaran yang makan tulang sendiri.”
Dek Yanti, mantan TKW yang kini lebih lihai mengemas isu daripada membungkus risoles, hanya nyengir sambil menyeduh Kopi Slemon. Di kantin itu, gosip politik lebih mahal harganya daripada harga gula.
Kabupaten Kismin Jaya Abadi memang baru saja menggelar paripurna APBD Perubahan. Tapi, kata Din Bacut, itu bukan sidang rakyat, itu pasar grosir proyek.
Bukan rakyat yang diuntungkan, melainkan anggota dewan yang memamerkan gigi putih hasil scaling di klinik langganan kontraktor.
“Saya baru dapat kabar dari Yanto Gendot,” ujar Din Bacut sambil meniup kopi. “Di beberapa dinas, proyek-proyek besar sudah diambil anggota dewan. Katanya sih program aspirasi. Aspirasi siapa? Ya aspirasi dompet mereka.”
Dek Yanti menimpali sambil meletakkan cangkir, “Kalau hampir semua diambil dewan, gimana nasib kontraktornya, Din?”
Din Bacut menghela napas, lalu tersenyum getir.
“Kontraktornya mah aman, Dek, asal mau setor. Kisaran 20-25 persen, cincai lah dapat proyeknya. Tender itu formalitas, seperti akad nikah yang sudah ditentukan pengantinnya dari awal.”
Di meja sebelah, Amir Bingut ikut menambahkan bumbu gosip.
“Sekarang itu ada ‘rombongan tertentu’, geng elite yang mengendalikan beberapa proyek strategis. Kalau mau ikut main, harus lewat jalur mereka. Kalau enggak, siap-siap jadi penonton.”
Rudi Kisut mengangguk. “Itu ibarat lapangan bola, Din. Kontraktor cuma boleh jadi penonton bayar tiket, yang main bola cuma tim inti, itupun sambil bawa gawangnya sendiri.”
Rustam Silobilobi menatap mereka semua, wajahnya memerah seperti lampu rem truk.
“Lama-lama rakyat ini cuma jadi penonton yang dipaksa beli tiket paling mahal. Sementara pertandingannya sudah diatur, wasitnya satu geng sama pemain.”
Din Bacut menyalakan rokok illegal tanpa cukai Mamah Baru, asapnya melayang ke langit-langit kantin.
“Begitulah, Tam. Mereka itu anjing penjaga anggaran. Bedanya, mereka menggonggong kalau ada rakyat mendekat, tapi melengos kalau ada tuannya datang bawa tulang.”
“Lah kan sebenarnya wajar Namanya saja APBD, yaitu Anggaran Pendapatan Bapak Dewan jadi wajar kalau mereka saling sikut dan saling gigit seperti anjing penjaga anggaran,”singgung Dek Yanti.
Hujan mulai turun di luar. Dek Yanti menutup pintu kantin.
Di televisi tua yang tergantung di sudut, berita paripurna masih tayang, menunjukkan wajah-wajah anggota dewan yang sumringah.
Di kantin, cangkir-cangkir kopi Slemon bergemerincing.
Di gedung dewan, amplop-amplop cokelat mungkin sedang berpindah tangan dengan gesit, seperti tulang yang dilempar ke kandang anjing-anjing yang seharusnya menjaga, tapi justru paling lapar di antara semuanya.









Komentar