oleh

60 Miliar Versus Sejuta Bantuan Banjir

-Din Bacut-405 views

Di kantin kecil milik Dek Yanti, janda mantan TKW Arab yang terkenal dengan Kopi Slemon (Sekali Minum Langsung Moveon) pagi itu udara terasa lembap seperti handuk yang diperas setengah hati.

Hujan semalam turun deras, dan seperti biasa, Bandar Lampung kembali belajar berenang.

Din Bacut datang dengan celana digulung sampai betis. Sandalnya masih menyimpan lumpur dari gang rumahnya yang berubah menjadi sungai kecil.

“Banjir lagi, Din?” tanya Parno Bojoloro sambil menyeruput kopi.

Din Bacut duduk, menghela napas panjang, lalu berkata dengan wajah serius seperti pejabat yang baru selesai rapat anggaran.

“Bukan banjir, Parno… itu program wisata air gratis dari pemerintah kota.”
Parno tertawa pendek.

Dek Yanti yang sedang menuang kopi ikut menyengir.

“Kalau wisata air, kenapa wajahmu kusut begitu?” goda Dek Yanti.

Din Bacut mengaduk kopi pelan.
“Karena wisata itu masuk ke rumahku, Dek. Lemari ikut berenang. Kasur ikut menyelam.”

Bandar Lampung memang punya hubungan yang unik dengan hujan. Setiap musim hujan, kota ini seperti panggung teater yang memainkan drama lama.
Air datang dari langit.
Drainase bingung mau ke mana.
Sungai menyempit seperti celana masa SMA.
Lalu rumah warga berubah menjadi kolam renang darurat.
Dalam tiga tahun terakhir, cerita itu terus berulang.

Din Bacut hafal betul. Ia bukan pejabat. Bukan ahli tata kota. Tapi ia adalah saksi tetap dari banjir tahunan.

“Katanya dulu waktu kampanye mau memperlebar sungai,” kata Parno.
Din Bacut mengangguk.

“Iya, sungai mau dibikin belok. Tapi mungkin sungainya belum siap dibelokin.”
Parno mengangkat alis.
“Terus yang siap dibangun apa?”
Din Bacut menyeruput kopi Slemon, lalu menjawab dengan nada datar.
“Gedung.”

Baca Juga:  Pengangguran Daftar Dirut

Kabar tentang hibah Rp60 miliar dari Pemkot Bandar Lampung untuk pembangunan gedung Kejaksaan Tinggi Lampung sudah beredar sampai ke warung kopi kecil di gang-gang sempit.

Di kantin Dek Yanti, kabar itu dibicarakan seperti gosip artis.
“Enam puluh miliar, Din,” kata Parno sambil mengangkat enam jari.

Din Bacut menghitung di udara.
“Enam puluh miliar itu banyak, Parno.”
“Sebanyak apa?”
Din Bacut berpikir sejenak.

“Kalau dibuat gorengan, satu kota bisa kenyang.”
Dek Yanti tertawa keras sampai sendok kopinya jatuh.

“Serius ini, Din,” kata Parno. “Pemkot katanya kasih hibah buat gedung Kejati.”
Din Bacut mengangguk pelan.

“Iya. Lima belas miliar tahun ini. Empat puluh lima miliar tahun depan.”
Parno terdiam.

“Padahal kota kita sering banjir ya?”
Din Bacut mengangguk lagi.
“Banjir itu masalah air, Parno. Gedung itu masalah langit.”
“Maksudmu?”

Din Bacut menunjuk ke atas.
“Gedung menjulang ke atas. Banjir datang dari bawah. Mungkin pemerintah lebih suka urusan yang naik daripada yang meluap.”

Beberapa hari lalu, setelah banjir surut, wali kota datang ke salah satu kampung.
Din Bacut ikut melihat.
Ada kamera.
Ada wartawan.
Ada bantuan.

Setiap keluarga menerima Rp1 juta dan sekitar 10 kilogram beras.

Din Bacut tidak menolak. Ia tahu bantuan itu penting. Tapi ia juga tahu air yang masuk ke rumahnya tidak pernah menghitung nominal bantuan.

“Kasurku rusak,” katanya pelan.
“Motor?” tanya Parno.
“Mesinnya seperti ikan mabuk.”
“Warung tetanggamu?”
“Tidak buka tiga hari.”
Parno terdiam lagi.
“Terus satu juta cukup?”

Din Bacut mengangkat bahu.
“Satu juta cukup buat membeli sabar.”

Hujan kembali turun siang itu.
Di depan kantin Dek Yanti, air mulai mengalir perlahan di selokan yang sudah lama terlihat lelah.

Baca Juga:  Demokrasi Drama Korea

Din Bacut berdiri dan memandang jalan yang mulai basah.
“Kadang aku berpikir, Parno,” katanya.
“Berpikir apa?”
Din Bacut tersenyum tipis.
“Kota ini sebenarnya tidak kekurangan hujan.”
“Terus kekurangan apa?”

Din Bacut menatap langit yang gelap.
“Mungkin keberanian.”
“Keberanian apa?”
“Keberanian memilih, lebih penting mana , mencegah rumah warga tenggelam, atau membangun gedung yang menjulang.”
Parno tidak menjawab.

Di kejauhan, suara air mulai terdengar lagi.
Dan seperti biasa, Bandar Lampung bersiap memainkan bab berikutnya dari cerita yang sama:
air naik,
rumah terendam,
janji kembali mengapung.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed