oleh

Umroh Bancakan Dewan

-Din Bacut-128 views

Malam itu Kedai Kopi Slemon lebih ramai dari biasanya.

Ucup Kenyot datang sambil ngakak.

“Ngakak kenapa, Cup?” tanya Dek Yanti.

“Habis nonton drama Komisi I DPRD Badar Kipung.”

“Drama apa?”

“Drama jatah umroh anggota dewan!”

Din Bacut langsung memasang telinga.

“Ini lebih seru dari Dracin?”

“Jauh!”

Dalam hearing bersama Bagian Kesra, Ketua Komisi I Gustimini mempertanyakan mekanisme program umroh.

Din Bacut langsung nyeletuk:

“Jadi bukan mempertanyakan umrohnya, tapi jatahnya siapa dan bagaimana cara dapatnya?”

“Betul!”

Konon,  sejak dahulu 50 anggota dewan punya jatah.

Ketua dapat lima.

Wakil tiga.

Anggota dua.

Dek Yanti langsung menghitung dengan jari.

“Kalau begitu kursi DPRD sekalian bisa disebut kursi menuju Tanah Suci.”

Ubay Chalak tertawa.

“Kalau jatahnya bisa diperjualbelikan, bukan kursi menuju Tanah Suci lagi.”

“Terus?”

“Kursi menuju rezeki.”

Cerita yang beredar bahkan menyebut jatah bisa dijual Rp25 juta sampai Rp30 juta.

Dek Yanti melotot.

“Lho, ini ibadah atau pasar?”

Din Bacut menyeruput kopi.

“Kalau benar, berarti ada ilmu baru.”

“Ilmu apa?”

“Caniago.”

Ucup bingung.

“Caniago?”

“Cacing Jadi Nago!”

Semua tertawa.

“Di Dracin, Caniago bisa bikin orang biasa jadi dewa judi. Di Badar Kipung, mungkin ada ilmu yang lebih sakti.”

“Apa?”

“Jatah Jadi Dewa.”

Sementara itu, Kabag Kesra Jon Mangkuelsi menjelaskan bahwa Pemkot tetap menyiapkan 1.000 kursi umroh pada 2026, tidak bertambah dan tidak berkurang.

Tetapi ketika bicara soal penerima, ceritanya mulai menarik.

Seleksi disebut tetap dilakukan, meski ada calon yang ditunjuk wali kota.

Gustimini pun meminta juklak dan juknis program dibuka.

Masalahnya, juknis disebut belum sampai ke Komisi I.

Ubay langsung nyeletuk:

“Jangan-jangan juknisnya sedang umroh.”

Baca Juga:  Anjing Penjaga Anggaran

Kedai Slemon pecah.

Tapi di balik tawa itu ada pertanyaan sederhana:

Kalau anggota dewan sudah punya jatah, siapa yang mengawasi jatah?

Kalau ada 1.000 kursi, siapa yang duduk?

Dan kalau jatah bisa dijual, siapa yang menjadi pembelinya?

Sebab rakyat hanya punya KTP.

Sementara pejabat punya jabatan.

Din Bacut mengangkat cangkir.

“Dek, ternyata Caniago bukan cuma Cacing Jadi Nago.”

“Terus?”

“Cacing Jadi Nago, Jatah Jadi Dewa, dan Kursi Jadi Dagangan.”

Dek Yanti menggeleng.

“Pedas kali kau, Din.”

“Bukan pedas. Ini kopi.”

Ubay menyahut:

“Kalau begitu judulnya?”

Din Bacut tersenyum.

“Dewa Jatah: Ketika Cacing Jadi Nago, Umroh Jadi Bancakan.”

Dan malam itu mereka sepakat.

Di Badar Kipung, yang paling sakti ternyata bukan ilmu Caniago.

Tapi ilmu mendapatkan jatah.

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed