Pagi itu Kedai Dek Yanti lebih ramai dari biasanya. Bukan karena kopi Slemon (Sekali Minum Langsung Move On) lagi diskon, melainkan karena satu kabar yang membuat Provinsi Lintung gaduh seperti kandang bebek dilempar petasan.
Mantan Presiden Republik Ketoprak, Kojodowi, datang ke Lintung.
Bukan untuk panen singkong yang harganya sempat ambruk dan membuat petani berdemo.
Bukan juga untuk meninjau jalan rusak yang lubangnya bisa menelan motor plus mertuanya.
Ia datang untuk safari politik. Tujuannya jelas yakni membesarkan partai anaknya, Partai Sok Aksi dan Tidak Imut, disingkat PASTI.
Ketua partai itu tak lain adalah anak kandungnya sendiri, Kistang Sakarep, pemuda yang wajahnya selalu serius seperti habis kehilangan kuota internet.
Padahal dulu Kojodowi besar dari partai lain, partai legendaris Banteng Kesurupan Odol, atau yang akrab disebut warga sebagai Partai Bangkol. Dari situlah ia naik kelas, dari wali kota, gubernur Kajardah, sampai menjadi presiden Republik Ketoprak.
Namun yang bikin heboh bukan safari politiknya.
Melainkan… gelar adat.
Sekelompok tokoh adat yang oleh warga disebut “datuk premium” karena konon lebih mudah cair kalau ada aroma amplop, menobatkan Kojodowi dengan gelar Bagindo Pembino Bangso.
Mendengar itu, nyaris seluruh pelanggan Kedai Dek Yanti tersedak.
Din Bacut sampai batuk tiga kali dan menahan kentut.
“Pembino Bangso?” katanya sambil meletakkan cangkir. “Bangso yang mane? Bangso ketoprak apa bangso mie rebus?”
Dek Yanti yang sedang menuang kopi hanya geleng kepala.
Di meja pojok, sudah duduk empat manusia yang kalau berkumpul selalu melahirkan kegaduhan intelektual.
Din Bacut, Minak Sudir, Sleman Kijing dan Ali Bekot.
Empat orang ini adalah kombinasi antara filsuf jalanan, komentator politik, dan tukang utang warung.
Minak Sudir menyeruput kopi pelan.
“Yang hadir siapa aja waktu penobatan?”
“Lengkap. Ada Datuk Malenggang di Langit, Panglima Cakar Ayam, Tuanku Bakul Soto, budayawan terkenal, mantan kepala daerah, sampai mantan koruptor,” jawab Din Bacut.
Ali Bekot melotot.
“Mantan koruptor?”
“Iya.”
“Hebat benar adat sekarang,” kata Ali. “Dulu syarat dapat gelar itu jasa. Sekarang kayaknya cukup jaringan.”
Sleman Kijing yang terkenal paling sinis menyulut rokok.
“Masalahnya bukan Kojodowinya.”
“Lalu?”
“Masalahnya siapa yang memberi, prosesnya apa, dan mewakili siapa.”
Semua diam.
Untuk pertama kalinya pagi itu, candaan berhenti.
Din Bacut menatap jauh ke jalan.
“Gelar adat itu bukan sekadar tempelan di undangan,” katanya.
“Itu kehormatan. Ada makna filosofis. Ada tanggung jawab moral.”
Ali Bekot menyeringai.
“Bahasamu makin kampus, Din.”
Din tak peduli.
“Kalau gelar diberikan karena jasa nyata kepada masyarakat, wajar. Tapi kalau pas momennya berbarengan dengan safari politik partai anak… orang boleh curiga.”
Minak Sudir mengangguk.
“Itulah yang disebut Clifford Geertz.”
Ali mengernyit.
“Itu datuk dari marga mana?”
Din Bacut menepuk jidat.
“Bukan datuk, bodoh. Antropolog.”
“Oh…”
Din melanjutkan.
“Geertz bilang simbol budaya itu punya kekuatan legitimasi.”
Sleman menimpali.
“Bahasa warungnya, cap adat bisa jadi stempel politik.”
Ali manggut-manggut.
“Nah itu aku paham.”
Dek Yanti ikut nimbrung.
“Kalau Koentjaraningrat bilang apa?”
Din menjawab cepat.
“Adat itu sistem nilai.”
Ali menyela.
“Kalau dipakai untuk kepentingan lain?”
Sleman tersenyum tipis.
“Itu namanya penyimpangan.”
Suasana hening lagi.
Lalu dari luar terdengar suara motor knalpot brong.
Braaaang.
Din menyeruput Slemon.
“Masalah terbesar bukan hari ini.”
“Apa?”
“Inflasi simbolik.”
Ali Bekot bengong.
“Itu penyakit?”
“Bukan.”
Sleman menjelaskan.
“Kalau sesuatu yang langka terlalu sering dibagi-bagi, nilainya turun.”
Ali berpikir keras.
“Kayak piagam penghargaan?”
“Ya.”
“Kayak doktor honoris causa?”
“Mirip.”
“Kayak gelar adat?”
Din menunjuk Ali.
“Nah. Otakmu akhirnya nyala.”
Ali tersenyum bangga.
“Berarti kalau tiap pejabat pulang kampung dapat gelar, lama-lama nilainya habis?”
“Betul.”
Minak Sudir menambahkan,
“Dulu gelar adat berat. Sekarang jangan-jangan tinggal pilih paket.”
Ali tertawa.
“Silver, Gold, Platinum?”
Sleman menimpali.
“Paket Ultimate dapat bonus foto dan tarian.”
Seketika kedai pecah oleh tawa.
Namun Din Bacut tetap serius.
“Makanya lembaga adat harus menjaga marwah.”
“Bagaimana caranya?”
“Transparan.”
“Jelaskan kriterianya.”
“Musyawarah terbuka.”
“Jelaskan alasan pemberian.”
Dek Yanti menaruh pisang goreng.
“Supaya rakyat percaya?”
Din mengangguk.
“Kalau tidak, masyarakat akan berpikir adat hanya alat mendekat ke kekuasaan.”
Ali Bekot menghela napas.
“Jadi menurut kalian gelar yang cocok buat Kojodowi apa?”
Empat detik hening.
Sleman Kijing mengembuskan asap rokok.
Minak Sudir menyipitkan mata.
Din Bacut meletakkan cangkir.
Lalu dengan suara datar, ia berkata:
“Bagindo Perusak Bangso.”
Kedai hening.
Lalu—
BRAK!
Ali Bekot menepuk meja sambil tertawa sampai hampir jatuh.
Dek Yanti sampai memegangi perut.
Bahkan pelanggan di meja sebelah ikut ngakak.
Din Bacut menatap kosong ke luar kedai.
“Adat itu warisan leluhur,” katanya pelan.
“Kalau kehormatan bisa dibeli kedekatan politik, yang rusak bukan cuma lembaga adat…”
Ia berhenti.
“…tapi harga diri kebudayaan.”
Angin pagi masuk dari sela warung.
Radio tua memutar lagu dangdut pelan.
Di luar, jalan kampung tetap berlubang.
Di kantor-kantor, baliho politik tetap berdiri.
Dan di negeri bernama Republik Ketoprak, gelar kehormatan kadang memang lebih mudah didapat daripada kepercayaan rakyat.
Din Bacut meneguk sisa kopi.
Pahit.
Sangat pahit.
Seperti kenyataan.










Komentar