oleh

Tanpa Rasa Malu, Arinal Klaim Lampung Terbaik Tangani Korona

Bandar Lampung-Gubernur Lampung Arinal Djunaidi diduga kembali melakukan pembohongan publik dengan pernyataan Provinsi Lampung terbaik dalam penanganan Covid-19.

Meski hanya lima daerah yang menuai apresiasi dari Presiden Jokowi  terkait penanganan Covid-19, yakni DI Yogyakarta, Bangka Belitung, Aceh, Sumatera Barat dan Gorontalo, namun Arinal tanpa rasa malu mengklaim Bumi Lada juga mendapat predikat serupa.

Dalam Rapat Kesiapan Penyelenggaraan Pemilihan Kepala Daerah Serentak 2020 di Provinsi Lampung, di Ruang Rapat Utama Kantor Gubernur Provinsi Lampung, (22/10), Gubernur kembali menegaskan jika penyelenggaran Pilkada jangan sampai mencoreng Lampung sebagai daerah dengan predikat terbaik penanganan Covid-19.

“Provinsi kita pernah menjadi yang terbaik dalam penanganan Covid, jadi jangan sampai nanti ketika pilkada berjalan dapat mencoreng citra Provinsi Lampung dalam penanganan Covid. Saya harap KPU dan Bawaslu Kabupaten/Kota pun ikut berkontribusi dalam menyambut pilkada di tengah pandemi ini. Saya minta juga jangan hanya Kabupaten/Kota saja, Provinsi pun harus ikut ambil andil dalam menyukseskan pilkada ini,” kata Arinal.

Arinal menginginkan seluruh unsur secara bersama-sama dapat menjalankan tugas dan berkoordinasi dengan instansi terkait guna menyukseskan jalannya pilkada.

Seluruh Paslon harus mematuhi Pakta Integritas dan Peraturan KPU Nomor 13 Tahun 2020 khususnya komitmen untuk mematuhi protokol kesehatan dalam pelaksanaan kampanye.

Situasi Covid per 21 Oktober, bahwa Kota Bandar Lampung berada di zona merah. Gubernur mengingatkan Bawaslu Kota Bandar Lampung untuk siaga dan mewaspadai potensi peningkatan kasus dalam aktivitas rangkaian pilkada khususnya dalam kegiatan kampanye.

“Saya merekomendasikan kepada Kota Bandar Lampung untuk meningkatkan sistem kesehatan dalam rangka antisipasi kenaikan kasus yaitu dengan menambah ruang perawatan dan sarana alat kesehatan untuk kasus positif Covid-19 dengan gejala berat/kritis, menyiapkan sarana standar isolasi mandiri, pendisiplinan protokol kesehatan dalam setiap aktivitas kegiatan, menyiapkan SDM termasuk merekrut relawan untuk membantu tracing dan penyelidikan epidemiologi termasuk tenaga surveilans dari RS dan pengetatan di pintu masuk,” tandasnya.(Bung)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed