oleh

WTP ( Wajar Tapi Pamrih)

-Din Bacut-292 views

Kedai Kopi Slemon milik Dek Yanti mendadak lebih ramai dari biasanya. Kedai kecil di pinggir jalan itu memang punya daya tarik tersendiri.

Selain kopinya yang pahit-manis seperti nasib rakyat kecil, nama kopinya juga unik yakni Slemon, singkatan dari Sekali Minum Langsung Move On.

Dek Yanti, mantan TKW Arab yang banting setir menjadi penjual kopi, sibuk melayani pelanggan sambil menggoreng tempe bongkrek rasa keju andalannya.

“Hari ini gratis gosip satu porsi buat setiap pembeli kopi,” celetuknya.

Yang menjadi bahan obrolan bukan lagi harga pupuk atau jalan desa yang berlubang, melainkan kabar bahwa desa mereka mendapat penghargaan bergengsi dari Provinsi Kapak Kipung.

Penghargaan itu bernama WTP yaitu  Wajar Tapi Pamrih. Penghargaan tersebut diberikan kepada desa yang dinilai mampu menyajikan laporan keuangan dana desa secara akuntabel dan Desa Sulit Makmur sudah tak terhitung mendapat WTP.

“Hebat benar desa kita,” cetus Din Bacut.
Namun, bisik-bisik tetangga berembus lebih kencang daripada kipas angin di mushala.
Katanya, WTP itu bukan soal laporan bersih.
Katanya, WTP itu bisa dibeli.

Desa Sulit Makmur yang dipimpin Kades Wandul Kesot bersama Sekdes Ubay Gumoh beberapa kali diketahui mengalami kebocoran anggaran.

Tapi entah bagaimana caranya, semua temuan bisa menguap seperti asap kopi panas.

Konon, para auditor dari BaPeKa (Badan Pengawas Kampung) itu lebih mudah luluh jika diajak berdiskusi sambil ditemani “amplop silaturahmi”.

Tak hanya Desa Sulit Makmur.
Desa Linting Timbur yang dipimpin Ela Markonah serta Kelurahan Bandar Lesung di bawah Bu Lurah Eva Hermanen juga ikut menikmati gelar bergengsi itu.

Padahal pengelolaan keuangannya, menurut cerita warung ke warung, tak pernah sepi dari persoalan.

Baca Juga:  Skandal Cinta Kadis Kominfo (Bagian Kedua)

Kalau menurut dari Rustam Silobilobi, Bu Lurah Eva Hermanen sangat royal ke Jaksa.Biar aman kasusnya tidak diusut.

Din Bacut yang sedari tadi menyeruput kopi Slemon mengelus kumis tipisnya.

“Apa sih yang tidak bisa dibeli sekarang?” ujarnya.

“Auditor BaPeKa juga manusia biasa. Mereka tidak luput dari nafsu harta, tahta, wanita… juga kuota internet.”

Dek Yanti ikut menimpali.
“Catatan kitab hutang saja bisa dihapus asal negonya jelas. Masa temuan audit tidak bisa?”

Sambil membalik tempe bongkrek, ia terkekeh.
Di sudut kedai, Rustam Silobilobi alias Kakek Segala Tahu mengangkat telunjuk.
“Aku dapat informasi dari intel yang kusebar di beberapa desa,” katanya pelan, seolah membocorkan rahasia negara.
“WTP itu bisa dinego.”

Semua mendadak diam.
“Caranya gampang,” lanjut Rustam. “Ajak ngopi. Fokus dengan solusi. Lalu sampaikan tawaran.”

“Kalau auditor sudah klepak-klepek, temuan seratus juta bisa berkurang jadi empat puluh juta.”

Seseorang hampir tersedak mendengarnya.
“Ini seperti CLBK,” kata Rustam santai.

“Cinta Lama Bersemi Kembali.”
“Maksudnya?”
“Hubungan lama antara yang diperiksa dengan yang memeriksa. Sama-sama paham bahasa isyarat.”

“Praktik seperti ini sudah jamak bertahun-tahun.”
Joni Gambreng yang dikenal sebagai pemuda kreatif desa langsung berdiri.
Wajahnya merah.

“Kalau benar begitu, mana akuntabilitasnya?” protesnya.
“Kalau WTP saja bisa dibayar, lalu penghargaan itu untuk apa?”

“Presiden Republik Ketoprak, Pak Praroro Sontoloyo, harus tahu soal ini!”
Joni semakin berapi-api.

“Katanya mau memberantas koruptor. Tapi kalau praktik seperti ini dibiarkan, lebih kejam dari apa pun yang sering diteriakkan itu.”

Suasana kedai kembali hening.Din Bacut menyeruput sisa kopinya.
Lalu berkata pelan.

“Kalau penghargaan diberikan bukan karena kejujuran, maka yang dihormati bukan integritas, melainkan tarif.”

Baca Juga:  Siluman Menggugat Kerajaan Karang Tembung

“Yang rajin mencatat kalah dengan yang pandai melobi.”

“Yang takut salah dianggap bodoh.”
“Sedangkan yang lihai bernegosiasi disebut pintar.”

Ia meletakkan gelas kosongnya.
“Mungkin memang sudah waktunya singkatan WTP diperbarui.”

“Wah Tapi Pamrih.”
Karena di Republik Ketoprak, kadang-kadang yang penting bukan benar atau salah.
Yang penting…
harga cocok.

Dek Yanti tersenyum tipis sambil menuangkan kopi berikutnya.
“Minum dulu,” katanya.
“Kalau terlalu serius memikirkan negeri ini, nanti kopinya keburu dingin cintah,, Sedingin cintaku padanya hikss.”

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed