Jauh di ujung galaksi, di sebuah planet kecil yang namanya nyaris tidak pernah disebut dalam peta antarbintang, berdirilah sebuah negeri bernama Mergocadang.
Planet itu sebenarnya tidak istimewa.
Udara cukup.
Air kadang ada.
Jalan kadang bagus tapi lebih banyak yang rusak.
Drainase kadang berfungsi.
Sekolah kadang diperbaiki.
Dan rakyatnya, yang sebagian besar berupa kambing dan tikus, tetap bekerja setiap hari agar roda ekonomi planet terus berputar.
Tetapi Mergocadang memiliki satu keunikan.
Planet itu mempunyai tiga kebun binatang raksasa yang melayang di luar angkasa.
Kebun pertama bernama Kebun Binatang Badar Kapung.
Kebun kedua bernama Kebun Binatang Mambu Ketek.
Dan kebun ketiga bernama Kebun Binatang Jekso Edan.
Ketiganya berada di orbit berbeda.
Ketiganya memiliki penghuni berbeda.
Tetapi ketiganya mempunyai satu kesamaan, semuanya sangat menyukai cuan.
BADAR KAPUNG DAN BERUK TUA BETINA
Kebun Binatang Badar Kapung berada di orbit utara Planet Mergocadang.
Penghuninya terdiri dari beruk dan tikus.
Ada seekor Beruk Tua Betina yang menjadi penguasa kebun itu.
Beruk Tua sangat terkenal.
Bukan karena ia paling pintar.
Bukan pula karena ia paling kuat.
Tetapi karena ia sangat pandai mengambil hati.
Ia bisa tersenyum kepada siapa pun.
Ia bisa menepuk pundak siapa pun.
Dan ia mempunyai satu kalimat yang selalu membuat penghuni kandang senang:
“Nanti kita bantu.”
Jalan rusak?
“Nanti kita bantu.”
Sekolah rusak?
“Nanti kita bantu.”
Drainase mampet?
“Nanti kita bantu.”
Kandang tikus bocor?
“Nanti kita bantu.”
Bahkan ketika seekor kambing mengeluh tidak punya rumput, Beruk Tua tersenyum.
“Tenang.”
“Ada bantuan?”
“Belum.”
“Lalu?”
“Ada perhatian.”
Kambing terdiam.
Di Badar Kapung, rupanya perhatian lebih mudah diberikan daripada cuan.
MAMBU KETEK DAN KAMBING-KAMBING PEMBAYAR
Tidak jauh dari sana melayang Kebun Binatang Mambu Ketek.
Penghuninya adalah beruk dan kambing.
Kambing jumlahnya jauh lebih banyak.
Tetapi yang memegang kendali tetap beruk.
Kambing bekerja.
Beruk rapat.
Kambing membayar.
Beruk menghitung.
Kambing bertanya.
Beruk menjawab:
“Sudah sesuai aturan.”
Kalimat itu menjadi mantra resmi Mambu Ketek.
Jika kambing bertanya:
“Kenapa cuan kami dipakai untuk kandang anjing?”
Jawabannya:
“Sudah sesuai aturan.”
“Kenapa bukan untuk memperbaiki kandang kambing?”
“Anggaran terbatas.”
“Kenapa sekarang?”
“Ada program.”
“Kenapa sebanyak itu?”
“Sudah melalui mekanisme.”
Kambing mengangguk.
Tetapi sebenarnya tidak mengerti.
Suatu hari seekor kambing tua bertanya kepada tikus:
“Menurutmu, apa itu APBD?”
Tikus menjawab:
“Anggaran Peningkatan dan Belanja Daerah.”
Kambing memandang aliran cuan yang keluar dari planet.
Lalu melihat kandang-kandang rakyat yang masih bocor.
Ia menggeleng.
“Sepertinya singkatan itu sudah tidak cocok.”
“Kenapa?”
Kambing menjawab:
APBD: ANGGARAN PARA BINATANG DAERAH.
Tikus tertawa sampai jatuh dari antena satelit.
PROPOSAL DARI JEKSO EDAN
Sementara itu, di orbit paling jauh berdiri Kebun Binatang Jekso Edan.
Penghuninya adalah anjing-anjing pemburu antargalaksi.
Anjing-anjing ini terkenal ganas.
Mereka bisa mengejar tikus sampai ke planet tetangga.
Bisa mencium jejak pencuri dari jutaan kilometer.
Dan kalau ada kambing mengambil rumput tanpa izin, mereka bisa menggonggong selama tiga hari tiga malam.
Namun suatu pagi, Jekso Edan mengirim proposal.
Isinya:
KANDANG KAMI PERLU DIPERBAIKI.
Beruk-beruk Badar Kapung membaca.
Beruk-beruk Mambu Ketek membaca.
Mereka saling memandang.
“Berapa?”
“Banyak.”
“Berapa banyak?”
“Puluhan cuan.”
Mata kedua beruk langsung berbinar.
“Bisa.”
“Bisa.”
Para tikus yang menguping langsung saling pandang.
Salah satu berbisik:
“Kalau begitu, kita tinggal melihat berapa banyak rumput kambing yang akan berubah menjadi kandang anjing.”
60 CUAN DARI BADAR KAPUNG
Tidak lama kemudian, Badar Kapung mengumumkan keputusan besar.
Untuk pembangunan gedung Kebun Binatang Jekso Edan, disiapkan 60 cuan.
15 cuan berasal dari anggaran pertama.
45 cuan berasal dari anggaran kedua.
Data sumber menyebut alokasi tersebut diberikan secara bertahap melalui dua tahun anggaran.
Kambing-kambing langsung berkumpul.
Seekor kambing tua bertanya:
“Kenapa kandang anjing dapat 60 cuan?”
Beruk menjawab:
“Karena penting.”
“Bagi siapa?”
“Bagi institusi.”
“Kalau kandang kami bocor?”
“Nanti.”
“Kalau jalan kami berlubang?”
“Nanti.”
“Kalau sekolah kami rusak?”
“Nanti.”
“Kalau warga butuh pelayanan?”
“Nanti.”
Kambing tua menggaruk kepala.
“Kenapa kebutuhan rakyat selalu nanti?”
Beruk tersenyum.
“Karena semuanya harus sesuai aturan.”
Kambing menatap beruk.
“Kalau begitu saya punya pertanyaan.”
“Apa?”
“Aturan menentukan boleh atau tidak. Siapa yang menentukan harus atau tidak?”
Beruk mendadak sibuk membuka map.
MAMBU KETEK MENGIRIM CUAN
Belum selesai Badar Kapung, Mambu Ketek ikut mengirim cuan.
Sekitar 35 cuan. Cuan itu dibagi ke dalam 17 fasilitas Kebun Binatang Jekso Edan.
Para kambing kembali mengadakan rapat.
Seekor kambing muda bertanya:
“Bukankah ini uang APBD?”
“Benar.”
“Uang rakyat?”
“Benar.”
“Yang menikmati fasilitasnya Jekso Edan?”
“Benar.”
“Berarti hibah?”
Beruk langsung berdiri.
“Bukan!”
“Lalu?”
“Program OPD.”
Kambing mengangguk.
“OPD itu Organisasi Pejabat Daerah?”
“Betul.”
Tiba-tiba seekor tikus muncul dari ventilasi.
“Di Mambu Ketek…”
Ia berhenti.
Lalu berteriak:
OPD itu ORGANISASI PEMUAS DIRI!
Tikus langsung kabur.
Beruk mengejar.
Namun tikus sudah menghilang ke lorong gravitasi nol.
ORGANISASI PEMUAS DIRI
Sejak kejadian itu, rakyat Mergocadang mempunyai kamus sendiri.
APBD berarti:
Anggaran Para Binatang Daerah.
Sedangkan OPD berarti:
Organisasi Pemuas Diri.
Kalau ada program yang benar-benar memperbaiki kehidupan rakyat, kambing masih menyebutnya program pemerintah.
Tetapi kalau program itu membuat kandang binatang tertentu semakin nyaman sementara kandang rakyat masih bocor, tikus langsung berteriak:
“Itu program Organisasi Pemuas Diri!”
Beruk tentu marah.
“Itu penghinaan!”
Tikus menjawab:
“Bukan penghinaan.”
“Lalu?”
“Cermin.”
Beruk terdiam.
ANJING-ANJING PEMBURU DAN CUAN GRATIS
Di Jekso Edan, para anjing sedang berpesta.
“Dapat kabar?” tanya anjing muda.
“Apa?”
“Badar Kapung mengirim 60 cuan.”
“Wow!”
“Mambu Ketek juga mengirim sekitar 35 cuan.”
“Wow lagi!”
Seekor anjing tua tiba-tiba bertanya:
“Bukankah kita punya anggaran sendiri?”
“Punya.”
“Ya.”
“Kalau begitu…”
Anjing tua berhenti.
“Kenapa kita menerima cuan dari mereka?
Tidak ada yang menjawab.
Anjing muda berkata:
“Mungkin karena diperbolehkan.”
Anjing tua mengangguk.
“Bisa jadi.”
Anjing muda bertanya:
“Kalau diperbolehkan, apakah harus diterima?”
Anjing tua diam.
“Lalu?”
Ia menunjuk kandang baru yang sedang dibangun.
“Karena…”
“Karena apa?”
“Kandang baru lebih nyaman.”
Anjing muda tersenyum.
“Jadi kita bukan hanya anjing pemburu.”
“Lalu?”
“Anjing pemburu cuan.”
Anjing tua langsung menggonggong.
“Jangan keras-keras!”
95 CUAN MENGORBIT
Tidak lama kemudian, para tikus melakukan perhitungan.
60 cuan dari Badar Kapung.
Sekitar 35 cuan dari Mambu Ketek.
Mereka menulis di papan satelit:
TOTAL: 95 CUAN
Seorang kambing melihat angka itu.
“Cuan sebanyak itu?”
Tikus mengangguk.
“Ya.”
“Untuk siapa?”
Tikus menunjuk ke orbit Jekso Edan.
“Untuk kandang anjing.”
Kambing kemudian melihat kandangnya sendiri.
Atap bocor.
Pagar rusak.
Rumput menipis.
Ia menarik napas.
“Kalau 95 cuan itu untuk rakyat, kira-kira berapa kandang yang bisa diperbaiki?”
Tikus tersenyum.
“Banyak.”
“Lalu kenapa tidak?”
Tikus menjawab:
“Karena cuan punya gravitasi.”
“Gravitasi?”
“Ya.”
“Ke mana?”
Tikus menunjuk Jekso Edan.
“Ke tempat yang paling kuat menariknya.”
PALU AJAIB DI STASIUN ORBIT
Di atas Planet Mergocadang terdapat sebuah stasiun luar angkasa.
Di sana tinggal para wakil rakyat.
Mereka memiliki palu besar.
Setiap kali palu diketukkan:
TOK!
Program disetujui.
TOK!
Anggaran berubah.
TOK!
Cuan bergerak.
Seekor kambing berhasil menyusup ke dalam rapat.
Ia bertanya:
“Kenapa 60 cuan disetujui?”
“Sudah dibahas.”
“Kenapa 35 cuan juga?”
“Sudah dibahas.”
“Apakah prioritas rakyat dibahas?”
“Sudah.”
“Kalau begitu kenapa kandang anjing didahulukan?”
Para wakil binatang saling pandang.
Akhirnya salah satu menjawab:
“Karena semuanya sesuai aturan.”
Kambing menghela napas.
“Kalau begitu saya bertanya sekali lagi.”
“Apa?”
“Apakah sesuai aturan selalu berarti sesuai kebutuhan rakyat?”
Palu yang tadi siap diketukkan mendadak berhenti di udara.
Untuk pertama kalinya, palu anggaran kehilangan suara.
RAPAT DI SATELIT GRAVITASI NOL
Malamnya, kambing dan tikus berkumpul di sebuah satelit kecil.
Mereka melayang-layang karena gravitasi nol.
Seekor kambing berkata:
“Kita tidak menolak Jekso Edan memiliki gedung bagus.”
Tikus mengangguk.
“Kita juga tidak menolak pembangunan.”
Kambing melanjutkan:
“Yang kita persoalkan adalah prioritas.”
Tikus bertanya:
“Bukankah semuanya legal?”
“Legal belum tentu prioritas.”
“Boleh?”
“Belum tentu harus.”
“Program?”
“Belum tentu kebutuhan paling mendesak.”
Semua terdiam.
Seekor tikus kecil kemudian berkata:
“Berarti Mergocadang bukan kekurangan aturan.”
“Apa?”
“Kelebihan alasan.”
Semua tertawa.








Komentar