oleh

Rapat Kawanan Beruk

-Humaniora-253 views

Di Kebun Binatang Mambu Ketek, ada keajaiban yang sulit dijelaskan bahkan oleh ilmu zoologi.

Penghuninya hanya dua jenis yaitu beruk dan kambing.

Populasi kambing sebenarnya jauh lebih banyak. Namun entah sejak kapan, kekuasaan justru digenggam kawanan beruk.

Kambing banyak jumlahnya, tetapi hanya bisa mengembik.

Beruk sedikit jumlahnya, tetapi pandai bertepuk tangan.

Maka setiap kali rapat digelar, yang terdengar bukan suara kambing, melainkan suara kawanan Beruk.

“Uh-ah! Uh-ah! Setuju!”

Pagi itu, para beruk menggelar rapat besar membahas ABPD.

Bukan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.

Di Mambu Ketek, istilah itu sudah mengalami evolusi.

ABPD Adalah Anggaran Beruk Prioritas daerah.

Sebab, kalau menyangkut uang, para beruk selalu punya cara untuk menjelaskan bahwa semuanya penting.

Bahkan yang sebenarnya tidak mendesak bisa dibuat terdengar sangat mendesak.

Ketua Beruk membuka rapat.

“Saudara-saudara, pendapatan kita menurun. Belanja meningkat. Kandang kita bocor. Makanan kambing berkurang. Jalan menuju kandang rusak. Rumput semakin mahal.”

Para beruk mengangguk.

“Karena itu, kita harus menentukan skala prioritas.”

Para kambing yang mengintip dari balik pagar mulai berharap.

Mereka membayangkan kandang diperbaiki.

Mereka membayangkan rumput kembali hijau.

Mereka membayangkan anak-anak kambing tidak lagi tidur di lantai becek ketika hujan.

Tetapi harapan itu belum sempat tumbuh, seekor beruk senior berdiri.

“Kita bantu kebun binatang sebelah.”

Ruangan mendadak sunyi.

Bahkan seekor lalat yang sejak tadi mondar-mandir di atas meja seolah ikut mempertanyakan keputusan itu.

Di sebelah Mambu Ketek memang berdiri Kebun Binatang Jekso Edan.

Penghuninya terkenal, para anjing-anjing pemburu.

Mereka bukan sekadar anjing penjaga kandang.

Mereka anjing yang terbiasa memburu.

Dan kalau sudah mencium bau sesuatu yang menguntungkan, hidung mereka konon lebih tajam daripada penciuman anjing pada umumnya.

Baca Juga:  Mirza Dimata Mulyono

Beruk senior melanjutkan:

“Mereka juga membutuhkan bantuan.”

Seekor kambing memberanikan diri mengembik.

“Lho, kandang kita sendiri bocor.”

“Benar.”

“Makanan kita kurang.”

“Benar.”

“Jalanan menuju kandang kita rusak.”

“Benar.”

“Uang kita terbatas.”

“Benar.”

“Lalu mengapa membantu anjing?”

Beruk senior tersenyum penuh kebijaksanaan.

“Karena boleh.”

Kalimat itu jatuh di tengah ruangan seperti pisang matang.

Dan seperti biasa, langsung disambar.

“Setuju!”

“Setuju!”

“Setuju!”

Ada beruk yang bahkan tidak tahu apa yang disetujui, tetapi tangannya sudah lebih dulu terangkat.

Begitulah tradisi Mambu Ketek.

Paham belakangan, setuju dahulu.

Palu diketuk.

Tok!

Sah.

Anggaran berangkat menuju Jekso Edan.

Para beruk bersorak.

Para anjing tersenyum.

Para kambing kembali mengembik.

Di luar gedung, seekor anak kambing bertanya kepada induknya:

“Mak, kenapa uang kita dipakai membantu anjing?”

Induknya diam.

“Bukankah kita juga lapar?”

Diam.

“Kandang kita juga rusak?”

Diam.

“Rumput kita juga semakin sedikit?”

Induk kambing menarik napas panjang.

“Lalu kenapa mereka dibantu?”

Induk kambing akhirnya menjawab lirih:

“Karena di negeri beruk, yang penting bukan siapa yang paling membutuhkan.”

“Lalu siapa?”

“Siapa yang paling pandai meyakinkan bahwa mereka membutuhkan.”

Anak kambing mengangguk pelan.

Untuk pertama kalinya ia memahami politik anggaran.

Tidak perlu menjadi yang paling lapar.

Cukup menjadi yang paling pandai meminta.

Sementara itu, di Jekso Edan, pesta berlangsung meriah.

Para anjing pemburu mendapatkan makanan.

Satu ekor meminta tambah.

Yang lain ikut.

Yang ketiga berkata:

“Kalau masih ada, mengapa tidak?”

Dan yang keempat menyahut:

“Kalau boleh, mengapa harus menolak?”

Maka makanan pun terus berdatangan.

Mereka terkenal rakus.

Bukan karena selalu lapar.

Tetapi karena terlalu lama terbiasa diberi makan.

Yang lebih ironis, para beruk Mambu Ketek justru rela menyisihkan makanan kambing untuk para anjing.

Baca Juga:  Buku ‘Tanah Pijak Bernama Lampung’ dan Musik-Lagu AI Akan Diluncurkan

Kambing?

Tetap mengembik.

Tidak berdaya.

Tidak punya palu.

Tidak punya podium.

Tidak punya ruang sidang.

Tidak punya kemampuan mengubah rumput menjadi anggaran.

Mereka hanya punya satu kemampuan yakni

mengembik ketika lapar dan mengembik ketika kecewa.

Ironisnya, semakin banyak kambing mengembik, semakin keras suara palu para beruk.

Tok! Tok! Tok!

Begitulah Mambu Ketek.

Kambingnya banyak, tetapi tidak berdaya.

Beruknya tidak banyak, tetapi berkuasa.

Anjingnya rakus, tetapi dibantu.

Dan yang paling lucu sekaligus menyakitkan,

para beruk lebih cepat mengulurkan tangan kepada anjing daripada memperbaiki kandang kambing sendiri.

Di Mambu Ketek, rupanya rasa simpati pun memiliki alamat.

Kalau alamatnya tepat, bantuan meluncur.

Kalau tidak, silakan mengembik.

Di sana, skala prioritas juga punya wajah.

Yang lapar belum tentu diberi makan.

Yang sakit belum tentu diobati.

Yang kandangnya bocor belum tentu diperbaiki.

Yang jalannya rusak belum tentu diperhatikan.

Tetapi kalau anjing pemburu membutuhkan bantuan, para beruk bisa tiba-tiba menemukan alasan bahwa:

“Ini penting.”

Dan karena penting, maka harus segera disetujui.

Bahkan sebelum kambing sempat bertanya:

“Penting untuk siapa?”

Sebab di Mambu Ketek, pertanyaan seperti itu dianggap terlalu kritis.

Ada aturan.

Ada rapat.

Ada prosedur.

Ada persetujuan.

Ada tanda tangan.

Dan setelah semuanya lengkap, uang pun berangkat.

Sementara kebutuhan kambing tetap menunggu.

Maka berlaku hukum tak tertulis di kebun itu:

Kalau kambing lapar, rapatkan.

Kalau kandang bocor, rapatkan.

Kalau jalan rusak, rapatkan.

Kalau uang habis, rapatkan.

Kalau anjing perlu dibantu, jangan terlalu lama rapat.

Sebab para beruk sudah hafal satu mantra:

“Kalau boleh, mengapa tidak?”

Dan kembali terdengar:

“Uh-ah! Uh-ah! Setuju!”

Sementara para kambing berdiri di balik pagar.

Baca Juga:  Masjid Darussalam Cibubur Cikal Pusat Peradaban Islam Modern

Mereka melihat rumput yang semakin tipis.

Mereka melihat kandang yang semakin tua.

Mereka melihat anak-anak kambing menggigil ketika hujan turun.

Lalu seekor kambing tua berkata:

“Barangkali suatu hari para beruk akan sadar.”

“Sadar apa?”

“Bahwa ABPD bukan milik beruk.”

Anak kambing bertanya:

“ABPD itu apa?”

Kambing tua menjawab:

“Anggaran Beruk Prioritas daerah.”

Lalu ia tersenyum pahit.

“Setidaknya begitulah yang kami rasakan.”

Dan mungkin, suatu hari para kambing akan bertanya lebih keras:

“Sebenarnya uang ini untuk siapa?”

Tetapi pertanyaan itu terlalu berbahaya.

Sebab di Mambu Ketek, yang paling ditakuti para beruk bukanlah kritik.

Bukan pula suara kambing.

Yang paling ditakuti adalah satu pertanyaan sederhana:

“Kenapa kambing harus kelaparan demi membuat anjing kenyang?”

Dan ketika pertanyaan itu mulai terdengar dari seluruh kandang, para beruk biasanya punya satu jawaban paling aman:

“Tenang. Kita rapatkan dulu.”

Uh-ah! Uh-ah! Setuju!

 

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed