Kalau ada tempat paling jujur di Provinsi Latak Litung, itu bukan gedung dewan. Bukan pula kantor gubernur. Melainkan sebuah Kedai kopi di pelataran parkir Kantor Gubernur yang bernama Kedai Kopi Sekali Minum Langsung Move On (SLEMON).
Kedai itu milik Dek Yanti, mantan TKW yang kini menjadi juragan kopi. Usianya belum terlalu tua, wajahnya masih manis, senyumnya bisa membuat pelanggan lupa utang, bahkan pelanggan galau bisa langsung Move on melihat senyum Dek Yanti.
Maklum, saat muda, Dek Yanti merupakan bunga Desa di Kampungnya yakni Desa Mambu Ketek, bahkan Kepala Desa Mambu Ketek, Mangju Mangkuwanito sampai mau menceraikan istrinya hanya gara-gara ingin menikahi Dek Yanti
Tapi jangan salah. Di balik wajah lembutnya, lidahnya lebih tajam daripada pisau cukur tukang cukur keliling. Di kedainya berlaku satu aturan yaitu kopi boleh pahit, tetapi pembicaraan harus lebih pahit lagi.
Pelanggan paling setia tentu saja Din Bacut.
Nama aslinya sudah tidak ada yang ingat. Ada yang bilang jika namanya aslinya Adalah Jon Saputimun, Ali Bekot bahkan Jekson Matulesi. Namun sampai dengan saat ini ia terkenal dengan Din Bacut.
Orang mengenalnya sebagai lelaki kurus, berambut acak-acakan, suka sekali menggunakan topi, memakai sandal jepit yang sudah beberapa kali dijahit kawat. Kaos oblongnya sering bertuliskan “Lawan Korupsi”, meski hurufnya sudah memudar karena terlalu sering dicuci. Di tangan kirinya hampir selalu ada segelas kopi hitam, sementara tangan kanannya sibuk menunjuk-nunjuk udara ketika sedang mengkritik pejabat.
Hobinya sederhana, membaca berita, mengupas kebohongan, lalu membuat orang yang mendengarnya tertawa sekaligus gelisah.
Di sudut lain duduk Rustam Silobilobi, wartawan senior yang lebih terkenal heboh orangnya daripada media dan beritanya. Ia membawa kamera tua yang lebih sering memotret wajah pejabat ketimbang pemandangan. Katanya, kamera itu punya kemampuan khusus bisa membedakan senyum tulus dengan senyum menjelang pilkada.
Namun jangan remehkan Rustam. Kalimatnya sering terdengar ngawur, tetapi entah kenapa justru sering benar.
Di sebelahnya ada Ubay Sempak, wartawan muda yang dijuluki begitu karena konon pernah datang meliput rapat penting dengan buru-buru hingga lupa memakai celana panjang yang layak.
Namun relasinya luar biasa dari ASN rendahan sampai dengan pejabat eseleon satu, jika ada mutase di lingkungan Pemda, Ubay Sempaklah orang yang pertama update berita.
Sejak saat itu julukannya melekat. Ubay paling cepat mendapatkan kabar, tetapi juga paling cepat menyebarkan gosip. Mulutnya lebih gesit daripada motornya.
Sementara di kursi bambu dekat kipas angin duduk Wanda Kesot. Rambutnya selalu berdiri seperti baru disengat listrik. Kumisnya Bagaikan pelawak legendaris Kutul Arwana, banyak Wanita yang menjadi penggemarnya, karena menurut penggemarnya Pria berkumis sperti wanda Kesot merupakan keturnan lele dan bukan keturunan buaya.
Bajunya kusut, sepatunya beda warna kiri dan kanan. Ia juga wartawan senior nyambi pengamat politik, meski lebih sering mengamati diskon gorengan.
Pagi itu Kedai Slemon lebih ramai dari biasanya.
Bukan karena kopi gratis.
Bukan pula karena Dek Yanti sedang bagi-bagi senyum.
Melainkan karena kabar yang membuat Din Bacut hampir menyemburkan kopi hitamnya.
“Hibah lebih dari tiga puluh lima miliar rupiah lolos mulus masuk APBD untuk bantu Kejaksaaan.
Din Bacut meletakkan gelas.
“Sebentar…”
Ia mengusap kumis tipisnya.
“Kalau aku tidak salah sekolah dulu, APBD itu dibahas DPRD dulu, kan?”
“Iya,” jawab Rustam.
“Berarti hibah itu tidak turun dari langit.”
“Tidak.”
“Tidak diantar burung bangau?”
“Bukan.”
“Berarti ada banyak tangan yang mengangkatnya sampai masuk APBD.”
Warung langsung sunyi.
Ubay mengangguk pelan.
Din Bacut tersenyum.
“Kalau begitu jangan cuma tanya siapa yang mengusulkan.”
“Tanya juga siapa yang mengangguk.”
Dek Yanti yang sedang menuang kopi langsung nyeletuk.
“Kalau cuma mengangguk, boneka pajangan di dashboard truk juga bisa.”
Semua tertawa.
Menurut cerita yang beredar di Latak Litung, gedung DPRD memiliki teknologi paling mutakhir di dunia.
Bukan kecerdasan buatan.
Bukan superkomputer.
Melainkan…
Mesin Stempel Otomatis.
Apa pun yang datang dari pemerintah daerah…
Masuk.
Diproses.
Keluar dengan tulisan besar…
DISETUJUI.
Mesin itu luar biasa.
Tidak pernah bertanya.
Tidak pernah penasaran.
Tidak pernah berkata,
“Pak, ini anggarannya kenapa sebesar ini?”
Yang penting rapat selesai.
Absensi penuh.
Foto bersama.
Lalu pulang.
Din Bacut menepuk meja.
“Kalau begini rakyat tidak perlu memilih wakil rakyat.”
“Cukup beli stempel di toko alat tulis.”
“Lebih murah.”
“Tidak pakai mobil dinas.”
“Tidak ada perjalanan dinas.”
“Hasilnya sama.”
“SETUJU!”
Wanda Kesot menyengir.
“Dut…”
“Iya?”
“Jangan-jangan DPRD sekarang punya empat fungsi.”
“Lho, bukannya tiga?”
“Sudah bertambah.”
“Apa saja?”
“Legislasi.”
“Pengawasan.”
“Anggaran.”
“Dan…”
“Fungsi mengangguk serentak.”
Warung kembali pecah oleh tawa.
Rustam membuka map lusuh berisi dokumen.
“DPRD selalu bilang mereka mengawasi.”
Din Bacut mengangguk.
“Kalau benar mengawasi…”
“Masa hibah puluhan miliar lewat begitu saja tanpa suara?”
“Minimal ada yang bertanya.”
“Minimal ada yang debat.”
“Minimal ada yang bilang…”
‘Pak Ketua, angka ini besar sekali.’
“Tapi yang terdengar…”
Tok!
Setuju.
Tok!
Disahkan.
Tok!
Selesai.
Cepat sekali.
Sampai Ubay nyeletuk,
“Itu rapat anggaran apa lomba ketuk palu?”
Dek Yanti mengantar sepiring pisang goreng.
“Lho, kenapa diam semua?”
Din Bacut menjawab,
“Lagi menghitung.”
“Menghitung apa?”
“Kalau hibah Rp35 miliar saja tidak membuat DPRD ribut…”
“Angka berapa yang bisa membuat mereka bertanya?”
Semua saling pandang.
Tak ada jawaban.
Din Bacut lalu mengambil kertas bekas bungkus gula.
Ia menggambar seekor ayam.
Di sampingnya seekor burung beo.
“Apa bedanya?”
Rustam menjawab,
“Ayam berkokok.”
“Betul.”
“Beo?”
“Bisa menirukan suara.”
“Kalau wakil rakyat hanya mengulang ucapan eksekutif tanpa berpikir…”
“Mirip apa?”
Warung kembali hening.
Wanda pura-pura batuk.
Ubay sibuk melihat langit-langit.
Dek Yanti malah pura-pura mencuci gelas yang sudah bersih.
Tak ada yang berani menjawab.
Din Bacut kembali menyeruput kopi.
“Asal tahu saja…”
“Fungsi anggaran DPRD itu seperti rem truk.”
“Kalau rem dipakai…”
“Mobil tetap di jalan.”
“Kalau rem blong…”
“Semua cuma berharap sopirnya baik.”
Padahal…
Dalam politik…
Harapan bukan sistem pengawasan.
Rustam kembali membaca catatan.
“Rakyat sekarang cuma ingin tahu.”
“Apakah semua fraksi membaca rincian hibah itu?”
“Apakah ada yang meminta penjelasan?”
“Apakah ada yang mengusulkan pengurangan?”
“Apakah ada yang menolak?”
Kalau semua pertanyaan itu tidak pernah dijawab kepada publik…
Yang tumbuh bukan kepercayaan.
Melainkan…
Kecurigaan.
Din Bacut berdiri.
Menghabiskan kopi sekali teguk.
Lalu berkata pelan namun terdengar ke seluruh warung.
“Yang paling mahal dari anggota dewan bukan jasnya.”
“Bukan mobil dinasnya.”
“Bukan pin emasnya.”
“Tapi keberanian berkata…”
‘Tidak.’
“Kalau keberanian itu hilang…”
“Yang tersisa tinggal kursi.”
“Dan kursi…”
“…tidak pernah bisa mewakili rakyat.”
Sebelum pulang, Din Bacut mengambil spidol.
Ia menulis di papan kayu Kedai Slemon.
‘Wakil rakyat yang lupa bertanya akan berubah menjadi mesin stempel. Dan ketika mesin stempel bekerja lebih rajin daripada hati nurani, jangan heran jika APBD disahkan lebih cepat daripada keluhan rakyat didengar.’
Tak ada yang berbicara.
Hanya kipas angin tua berputar pelan di langit-langit warung.
Wanda Kesot memandang kipas itu sambil menghela napas.
“Lihatlah…”
“Benda mati saja masih berputar.”
“Yang bikin heran…”
“Kadang hati nurani manusia justru berhenti bekerja.”










Komentar