“Wakil rakyat jangan tidur waktu sidang soal rakyat.”
Lirik legendaris Iwan Fals dalam lagu Surat Buat Wakil Rakyat kembali menggema di ruang publik. Lagu yang lahir sebagai kritik terhadap perilaku para politisi itu ternyata masih relevan hingga hari ini.
Bahkan, kritik yang ditulis puluhan tahun lalu seolah menemukan panggungnya kembali dalam Sidang Paripurna HUT Kota Bandar Lampung ke-344.
Kali ini sorotan tertuju kepada anggota DPRD Kota Bandar Lampung dari Fraksi Golkar, Indera Feriza.
Di saat sidang paripurna berlangsung, di saat pidato dan sambutan resmi tengah disampaikan, di saat seluruh peserta forum seharusnya menunjukkan perhatian dan penghormatan terhadap agenda penting daerah, Indera Feriza justru terlihat tertidur atau molor di ruang sidang.
Pemandangan itu bukan terjadi dalam rapat biasa. Bukan pula dalam acara internal yang minim perhatian publik.
Peristiwa tersebut terjadi dalam forum resmi DPRD yang dihadiri langsung oleh Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal, Walikota Bandar Lampung, Eva Dwiana, unsur Forkopimda, pejabat pemerintah daerah, tokoh masyarakat, dan berbagai tamu undangan.
Di tengah suasana yang seharusnya mencerminkan kehormatan lembaga negara, publik justru disuguhi pemandangan yang mengingatkan pada lirik Iwan Fals:
“Wakil rakyat jangan tidur waktu sidang soal rakyat.”
Kalimat itu bukan sekadar lirik lagu. Itu adalah kritik sosial yang lahir dari kekecewaan rakyat terhadap wakil-wakilnya yang dianggap lalai menjalankan amanah.
Dan hari ini, kritik itu terasa hidup kembali ketika seorang anggota DPRD bernama Indera Feriza menjadi sorotan karena tertidur dalam sidang yang seharusnya dihormati.
Yang dipertanyakan publik bukan sekadar soal kantuk. Semua orang bisa lelah. Semua orang bisa mengantuk. Namun ketika seseorang memilih menjadi wakil rakyat, ada tuntutan moral yang melekat pada jabatan tersebut.
Bagaimana mungkin masyarakat dapat percaya bahwa aspirasi mereka diperjuangkan dengan sungguh-sungguh jika dalam forum resmi yang berlangsung hanya beberapa jam saja seorang legislator tidak mampu menjaga konsentrasi?
Lebih dari itu, tindakan seorang anggota dewan tidak hanya membawa nama pribadi.
Ia membawa nama partai dan fraksi yang menaunginya. Karena itu, ketika publik melihat Indera Feriza tertidur dalam sidang paripurna, maka nama Fraksi Golkar ikut terseret dalam penilaian masyarakat.
Golkar adalah partai besar dengan sejarah panjang di Indonesia. Partai yang selama ini dikenal mengedepankan disiplin organisasi dan pengalaman politik.
Karena itu, peristiwa yang melibatkan salah satu kadernya di ruang sidang tentu menjadi catatan yang tidak bisa dianggap remeh.
Rasa malu seharusnya tidak hanya menjadi beban pribadi Indera Feriza. Rasa malu itu semestinya menjadi bahan evaluasi bagi fraksi dan lembaga yang menaunginya.
Sebab kepercayaan publik dibangun dengan susah payah, tetapi dapat runtuh hanya karena satu momen yang terekam kamera.
Yang juga menjadi pertanyaan adalah minimnya respons terhadap kejadian tersebut.
Tidak terlihat adanya teguran terbuka yang menunjukkan bahwa perilaku itu dianggap sebagai persoalan serius. Padahal etika lembaga tidak boleh dikorbankan demi menjaga kenyamanan individu.
Rakyat saat ini tidak lagi menilai politisi dari baliho besar, slogan kampanye, atau janji-janji manis menjelang pemilu. Rakyat menilai dari tindakan nyata.
Satu foto bisa berbicara lebih keras daripada seribu pidato.
Satu momen bisa lebih jujur daripada seratus konferensi pers.
Dan satu pemandangan anggota DPRD yang tertidur dalam sidang paripurna bisa menjadi gambaran yang sulit dihapus dari ingatan publik.
Momentum HUT Kota Bandar Lampung ke-344 seharusnya menjadi ruang refleksi tentang kemajuan daerah dan pelayanan kepada masyarakat.
Namun insiden ini justru menghadirkan refleksi lain yang lebih mendasar, yakni tentang kesungguhan sebagian wakil rakyat dalam menghormati amanah yang diberikan kepadanya.
Karena pada akhirnya rakyat tidak memilih wakilnya untuk tidur.
Rakyat memilih wakilnya untuk bekerja.
Rakyat memilih wakilnya untuk berpikir.
Dan ketika nama Indera Feriza menjadi perbincangan karena tertidur dalam forum resmi yang dihadiri gubernur dan para pejabat penting daerah, maka publik kembali teringat pada pesan sederhana dari Iwan Fals yang ternyata masih relevan hingga hari ini:
“Wakil rakyat jangan tidur waktu sidang soal rakyat.”
Ternyata lagu itu belum kehilangan maknanya. Justru ada yang kembali membuatnya hidup.
Penulis : Abung Mamasa
Pemimpin Redaksi Harian Kandidat










Komentar